IndeksP O R T A LCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Yokomo : Kematian yang Disamarkan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
letnan_Pholenk
Newbie
Newbie


Age : 21
Contribute : 0
Jumlah posting : 24
Lokasi : yogyakarta

PostSubyek: Yokomo : Kematian yang Disamarkan   Tue 18 Mar 2014 - 9:40


“Ambil saja apa yang kau mau.... Jangan… Jangan bunuh saya!” Kata pria berbadan kekar berambut cepak itu. Kumis tipis yang tiap hari memberi aura kemachoan padanya, seperti kehilangan roh. Sorot mata mata singa jantan yang siap menerkam mangsanya ditunjukan pelaku untuk mengintimidasi korbannya.
Pria berbadan kekar ini sudah putus asa dan memilih berlari kearah pelaku. Dia pikir, dengan menabrak pelaku sampai jatuh, dia punya kesempatan meminta bantuan. Sayangnya, pelaku lebih cerdik. Dia menggeser sedikit badannya. Dalam posisi ini, pelaku dengan leluasa membekap hidung korbannya. Tidak perlu terlalu keras, korbannya sudah panik. Tinggal menunggu korbannya kehabisan nafas kemudian meregang nyawa dengan sendirinya.
***
“Selamat pagi! Pagi yang…” Bagus berhenti sebentar untuk mengamati penampilan sobatnya. Dia lebih mirip gelandangan sekarang dibanding seminggu yang lalu. “Em, kurang cerah tampaknya, ya.”
Tual diam saja. Posisinya tidak berubah sama sekali: “tidur” sambil duduk di single sofa antik.
Rumah ini sebenarnya punya dua kamar. Tapi sejak 4 tahun yang lalu, sejak diberikan gratis kepada mereka berdua, kamar di sebelah disulap menjadi laboratorium mini. Jadi, mau tidak mau, ruangan santai dan ruangan kerja berada dalam satu kamar yang mampu menampung sebuah meja kantor, lemari pakaian ukuran kecil beserta sofa panjang dan beberapa perabot lain.
“Betapa kasihannya temanku ini. Sampai lalat pun tidak ada yang berani mendekatimu.” Lanjut Bagus setelah meletakan cangkir kopi di meja.
“Gus, berapa telingamu?” Tual tidak merubah posisinya.
“Masih genap, kenapa?”
“Dengar, barusan letnan Hasbi mengundang kita. Ada pesta di pabrik tekstil pinggiran kota.” Jelas Tual singkat. “Apakah kau mau melihat kue-nya tidak berbentuk lagi karena sudah banyak dicuil orang?”
“Oke, berangkat sekarang, jenderal.”
***
“Minggir!!!!” Seoarang polisi berteriak ke arah kerumunan buruh pabrik yang ingin melihat ke dalam ruangan direktur. “Jangan mengganggu proses penyelidikan.” Dalam ruangan persegi panjang berukuran 5 x 4 meter ini, Bagus sedang sibuk mengamati mayat laki-laki yang tergeletak di tengah ruangan.
“Sudah belum, gus? Saya mau gambar dulu.” Seorang pria dengan jaket biru gelap bertuliskan FORENSIK di punggungnya dan sebatang kapur ikut jongkok disebelah Bagus.
“Hah? Oh, silakan digambar pak. Saya sudah selesai.” Kata Bagus beranjak keluar ruangan.
“Dasar perusuh!” Gumam salah satu petugas forensik yang sedang meneliti tumpukan buku di rak. Bagus yang mendengar gumaman pelan itu langsung menghampiri dan berdiri tepat dibelakangnya. Orang itu tidak sadar sedang diamati dari dekat.
“Lebih baik perusuh yang tidak makan gaji buta daripada berseragam sangar tapi kerjanya mencari sesuatu di tempat yang salah.” Kata Bagus menyilangkan tangannnya.
“Satu ruangan ini adalah TKP, dan bisa jadi satu kantor ini adalah TKP. Setiap tempat berpotensi menyimpan bukti kuat.” Petugas itu berusaha menyangkal tanpa melihat lawan bicaranya sama sekali.
“Seorang amatir pun tahu kalau mayat itu matinya di suatu tempat berjarak kurang dari 1 meter ke arah pintu dari tempatnya sekarang tanpa harus sekolah tinggi-tinggi dengan biaya mahal.” Balasan telak diberikan Bagus sebelum keluar ruangan.
Di luar ruangan, Tual mengobrol santai dengan letnan Hasbi. Seperti biasa, Tual mengkorek informasi mengenai korban tanpa disadari oleh letnan Hasbi kalau dia sedang dikorek informasinya.
“Sudah selesai observasinya?” Tanya Tual menyambut Bagus.
“Aku yakin tidak ada yang terlewat. Bagaimana kalau kopi?”
“Ide itu seperti namamu.” Tual lalu menghadap letnan Hasbi lagi. “Oke, ndan, kami pergi dulu. Kita lanjutkan lain waktu lagi.”
***
“Gus, kita ulang kebiasan kita sekarang. Aku rasa kasus ini sangat rumit di dalamnya.” Kata Tual selesai menulis jurnal kasus. Bagus masih mengaduk – aduk cangkir kopinya. Dia mencoba menarik kesimpulan dari bukti yang dia dapatkan tadi. “Dia kehabisan nafas bukan overdosis.”
“Ayolah, pembandingan akan lebih baik daripada keputusan sendiri.” Tual jengkel karena sahabatnya itu selalu saja menarik kesimpulan sendiri.
“Hehehe,” Bagus nyengir mendengar tanggapan Tual. “Aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan burukku itu. Korban dibunuh dengan dibekap hidungnya, dipindahkan ke tempat dimana dia mati karena ulahnya sendiri. Pelaku mencoba membuat dia mati karena overdosis putaw setelah dia minum minuman keras.” Ungkap Bagus berusaha tidak melewatkan satu detail kecil.
Tual menatap kosong lurus ke depan. Tampak dia sedang berpikir keras. Menit - menit kesunyian di kamar kerja seperti ini sangat dibenci Bagus. Bagaimanapun, dia akan terlihat seperti orang gila jika mencoba mengganggu Tual dalam posisi seperti ini.
“Gus,” Tual merogoh kantong kanan jaket hoodynya, “hubungi nomor ini. Katakan kamu adalah kontraktor dan minta dia datang segera.” Tual memberikan kartu nama bertuliskan RATIH KUSUMA.
***
Rumah kuno di pinggir jalan mawar inilah rumah kerja Tual dan Bagus. Awalnya, mereka memulai semuanya dari sebuah kos-kosan kecil milik sorang janda tua di pinggir kota. Mereka pindah ke rumah ini sekitar 4 tahun lalu ketika mereka menyelesaikan sebuah kasus tentang kematian nenek berumur hampir seabad yang dibunuh oleh cicitnya sendiri demi mendapatkan rumah ini. Kini mereka sedang merokok pipa cangklong di ruang kerja dengan seorang wanita bernama Ratih Kusuma.
“Saya ingin bertanya sedikit kepada anda dan tolong berikan jawaban jujur.” Keluar asap putih dari mulut Tual saat dia berbicara. “Apakah almarhum suami anda seorang perokok aktif?”
“Saya yakin tidak karena dia bukan seorang perokok.” Terang perempuan berumur empat puluhan itu.
“Seberapa yakin kalau suami anda tidak merokok?” Gantian Bagus mengajukan pertanyaan.
“Sembilan puluh persen. Memang apa hubungannya dengan kematiannya?” Gestur tubuh Ratih berubah menjadi jengkel dari mendominasi keadaan.
“Benar, kan?! Dia saja tidak sepenuhnya yakin. Dia berbohong, al. Punya cara lain untuk memaksanya berkata jujur?” Bagus tampak kesal. Menurutnya orang ini tidak ingin dibantu orang lain selain polisi.
“Saya mengatakan sejujur yang saya bisa, tuan Bukan Kontraktor!” Jawab Ratih sama kesalnya karena merasa dibohongi.
“Tenanglah, gus. Aku percaya ibu ini berkata jujur.” Tual meredam keadaan panas di ruangan ini. “Sekarang, kenapa anda hanya percaya sembilan puluh persen?”
“Karena di dunia tidak ada yang absolut.”
“Dia mengikhlaskan sisanya kepada suaminya sebagai pilihan. Kalau saja dia menjawab dia percaya penuh pada suaminya aku yang tidak akan percaya.”
“Terserah kamu, al. Lanjutkan saja, aku akan mengamati dulu.” Bagus mengakhiri dengan dengusan kesal.
“Kalau begitu, kenapa seorang yang tidak merokok menyimpan sebungkus Marlboro merah dan Sampoerna mild merah beserta korek gas dalam laci meja kerjanya?”
“Saya sudah bilang, bagaimanapun dunia ini tidak punya keabsolutan.”
“Oh, begitu ya. Saya yakin anda seorang yang kritis, jadi bantu saya jawab pertanyaan ini. Dimana dia akan merokok tanpa ketahuan orang lain selain di dalam ruangannya di pabrik?”
“Mengenai rokok dalam laci, mungkin saja akan diberikan kepada kawannya atau mungkin saja untuk persediaan kalau dia menerima tamu yang datang, karena setiap pegawai laki-laki pabrik kami akan diberikan jatah rokok setiap bulannya.” Jawab Ratih datar.
“Kalau dia akan memberikan rokok itu, tidak mungkin dibuka terlebih dulu dan dibuang 2 linting tiap bungkusnya. Kalau dia menyiapkannya untuk tamu, kenapa saya tidak menemukan adanya tamu yang datang ke ruangannya melainkan dia terima di ruangan khusus tamu tanpa menyuguhkan rokok sama sekali?” Tual semakin mendesak. Ratih terdiam menatap Bagus dan Tual secara bergantian.
“Menurut teknisi pabrik, dia diminta suami anda memasangkan kipas penyedot dalam ruangannya sebulan yang lalu dengan alasan untuk menyedot bau yang sering muncul. Bagaimana mungkin di ruangannya muncul bau padahal jaraknya jauh dari kamar mandi di luar ruangan. Kamar mandi yang ada di dalam ruangan sudah dipasangi kipas penyedot di tiap sudutnya.”
Ratih semakin diam mendengar kata – kata Bagus tadi. Bayangan matanya menggambarkan emosi yang campur aduk dalam hatinya. Setengah jam berlalu dalam diam. Hanya suara kendaraan lewat yang terdengar. Mata Bagus dan Tual tidak bergeser sedikitpun dari Ratih. Dari ketiga orang ini, hanya Tual yang bisa duduk santai bersandar sofa merah darah kesayangannya.
“Jadi… Apakah anda memutuskan memberi tahu kebenarannya atau meninggalkan tempat ini lalu hidup dengan suami anda di tempat persembunyiannya?” Tanya Tual setelah menyalakan lagi rokoknya.
“Rumah ini aman dari sadapan?” Tual mengangguk mantap.
“Ini semua berawal dari ancaman – ancaman yang diberikan oleh pesaing usaha kami. Beberapa diantaranya adalah percobaan pembunuhan. Suami saya pernah turun drastis berat badannya karena tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malamnya.” Ratih menarik nafas sebelum melanjutkan. “Sampai di sore itu, saya dan suami saya sedang menikmati acara televisi. Dia mangatakan dia menemukan sebuah ide untuk mengakhiri penderitaannya. Dia akan mengumpankan seseorang setelah dia berhasil menyusupkan seorang teknisi sebagai pembalasan. Saya kenal betul dengan prinsip suami saya. Dia akan memberi air satu tangki penuh kepada orang yang memberinya satu liter air. Singkatnya, dia menemukan pria berpostur sama dengannya. Setelah kontrak ditanda tangani, suami saya menerbangkannya ke Singapura untuk operasi plastik selama sebulan lebih. Sepulangnya pria itu, suami saya lalu pergi untuk bersembunyi di suatu tempat. Rencananya, saya akan menyusulnya minggu depan setelah semua urusan saya selesai.” Ratih menerangkan semuanya dengan urut.
Tual dan Bagus mengangguk pelan. Satu obor merah, sebutan mereka untuk petunjuk berharga dalam sebuah kasus, sudah ditemukan.
“Berhubung anda berencana menyusul suami anda ke negara tempat anak anda kuliah minggu depan, saya akan berusaha menyelesaikan kasus ini kurang atau tepat saat anda pergi.” Kata Tual mengulurkan tangan kanannya. Ratih tidak menanggapi uluran tangan Tual.
“Da... dari mana.... anda tahu kemana saya akan pergi?” Ratih tergagap.
“Orang bijak berkata pada saya, jadikan dirimu terbiasa karena bisa dan kau adalah orang tersial di dunia kalau bisa karena terbiasa.” Tual masih mengulurkan tangannya.
“Saya harap saya masih bisa mengucapkan terima kasih kepada anda dan teman anda sebelum pergi.”
***
Sebenarnya, Bagus sudah menyatakan kekesalannya. Disaat mereka hanya diberi seminggu untuk menyelesaikan kasus, Tual justru menggunakan waktunya untuk minum kopi sambil menikmati sore.
“Gus, aku teringat kata temanku SMA dulu, sambil menyelam minum susu, sambil tenggelam minum kopi.”
“Tapi itu artinya mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Kita tidak cocok untuk itu saat ini, al.” Sungut sudah keluar dibalik rambut Bagus yang tebal.
“Kita mengerjakan sesuatu itu hampir pasti sekaligus tanpa kita sadari. Contohnya, saat kita makan pizza. Kita melakukannya karena keinginan kita, tanpa sadar, kita sudah mengenyangkan perut. Keinginan terpenuhi, kebutuhan juga terpenuhi.”
“Dan saat kita minum kopi, kita menghilangkan rasa haus dan juga memenuhi keinginan untuk minum kopi. Tanpa kita sadari, kita juga mendapatkan waktu santai kita.” Jawab Bagus ketus.
“Aku bersumpah, tidak berpikir seperti itu. Lama – lama kau pandai juga, gus.”
Mereka pun tiba di warung kopi yang diceritakan Tual sepanjang jalan meskipun dia tahu Bagus tidak berniat mendengarkan ceritanya. Tual memilih tempat di sudut saat Bagus memesan minuman.
***
Menurut para ahli, manusia diciptakan sebagai mahluk sosial dimana individu akan bergabung dan memebentuk kerja sama. Modal masing – masing individu merupakan salah satu penentu kerja sama apa yang akan terbentuk.
Seperti Tual dan Bagus. Dengan latar belakang yang berbeda, mereka membuat sebuah kerja sama yang baik untuk tujuan yang baik. Masing – masing saling membantu.
Mereka berdua mencoba mencari informasi mengenai pelaku utama dari teman Tual. Tual yang berangkat dari keluarga kurang mampu, memiliki banyak teman di tempat ini. Bengal, begitulah Tual biasa memanggilnya.
“Jadi, kau yakin orang yang kamu maksud punya semua ciri – ciri yang aku sebutkan tadi?” Tanya Tual meyakinkan kembali untuk ketiga kalinya.
“Ya, meskipun banyak sekali orang bertinggi 178 – 180 cm, dengan bobot sekitar 50 kg, berambut ikal bekerja di pelabuhan... Aku yakin, kok.” Tidak ada nada ragu dari jawaban Bengal.
“Bukannya meragukanmu, tapi aku belum bisa lupa kejadian di Port Morte tahun lalu karena aku hampir 2 bulan memperbaiki situasinya.”
“Ooh... Masalahnya kau bertanya disaat yang tidak tepat, bung. Apa yang kau harapkan dari orang yang baru saja menghisap gele?” Tanya Bengal kepada Bagus sambil menahan tawanya. Alih – alih menahan tawa, ekspresi Bagus terlihat sebagai penghinaan berat menurut Tual.
Tiba – tiba wajah Bengal berubah datar. Sebuah pergerakan raut wajah yang aneh, disadari keduanya. Rasa ingin tahu Tual lebih cepat terjawab dibanding Bagus. Merasa proses pencarian informasinya mendapat gangguan, Tual mengakhiri sesi interogasi ini setelah mendapat lokasi dimana dia menemukan pelaku.
Di dalam mobil, Tual tidak bisa duduk dengan tenang di belakang kemudi. Mulutnya yang bergetar karena menahan emosi justru terlihat seperti merapal mantra panjang. Sebagai seorang detektif, Tual sangat sensitif untuk urusan interogasi saksi. Dia akan marah besar kalau proses itu mendapat gangguan dari luar, terlebih tujuannya untuk melenyapkan bukti, saksi, dan / atau pelaku itu sendiri. Kondisi ini diperparah dengan bukti dan saksi yang sangat minim.
Sebagai rekan kerja, Bagus menyadari kejanggalan ini. Setelah memastikan tidak ada yang membuntuti, dia yakin hal apa yang membuat sahabatnya itu menjadi gelisah.
“Kita kalah selangkah?” Tanya Bagus tanpa mengharapkan jawaban.
“Belum, dan aku berusaha untuk berkata tidak.” Jawab Tual setelah berangsur tenang.
“Seberapa kuat jawaban tidakmu?”
“Sekuat usahaku... dan usahaku sama seperti baja berlapis titanium yang dibungkus dalam metal karbon”
“Sekarang apa yang aku lewatkan? Aku tidak mencium kehadiran Suladead.”
“Sebenarnya aku tidak ingin berspekulasi sekarang, tapi ada kemungkinan aku akan mengenakan jas hitam saat aku kembali kesini setelah kasus ini selesai.”
“Premis apa yang mendasari spekulasimu?” Tanya Bagus saat mobil menikung tajam ke kiri.
“Gus, seberapa kenal kamu dengan Suladead?”
“Sepanjang 2879 lembar kertas folio disusun memanjang dengan rapi.”
“Masih ingat dengan kasus letnan Nugroho?”
“Em....” Bagus mencoba mengumpulkan ingatannya pada kasus yang dimaksud. “Seorang anggota polisi yang dibunuh tahun 97 karena mencoba mengungkap kebusukan salah satu menteri. Penyebab kematian racun campuran yang ditembakan menggunakan senjata laras panjang dari jarak 900 meter. Pelaku utamanya 4 kali dihadirkan ke persidangan tapi selalu lolos karena kurangnya bukti. Dia adalah....”
“TURANGGA KASAN.” Mereka mengucapkan hampir bersamaan.
“Pernahkah kamu bertemu dengan orang ini?” Tual melambatkan laju mobilnya.
“Belum pernah sama sekali.” Jawaban Bagus sangat mantap kedengarannya.
“Sebenarnya, kamu sudah pernah bertemu dengannya sekali.” Tual memberikan senyum sinis khasnya.
“Berarti yang terakhir masuk sebelum kita...”
“Yuhuuuu...” Tual memotong ucapan Bagus untuk kesekian kalinya. “Sampailah kita. Aku menjadi semakin tertarik dengan kasus ini.”
Mereka tiba di rumah ketika hari berangsur gelap. Malam itu benar – benar malam yang sangat panjang untuk Bagus.
***
Matahari belum turun dari tempat tidurnya, tapi dua orang yang kita kenal sudah duduk rapi di meja makan. Jangan harap mereka menghadap sepiring nasi goreng hangat dengan telur mata sapi diatasnya. Hanya ada cangkir kopi dan kotak tembakau di depan mereka. Biasanya, ada beberapa kertas penuh coretan diantara “menu sarapan mereka”.
“Gus, cepat habiskan kopimu. Kita berangkat sekarang.” Tual terlihat berbeda hari ini. Kemeja abu – abu lengan panjang yang dia pinjam dari Bagus sedikit kebesaran, tapi masih enak dilihat. Dipadukan dengan celana bahan warna hitam lalu diberi sentuhan manis dari topi pet khasnya. Oh... hal terakhir hampir dilewatkan: semangat Tual.
“Hm... Hm...” Bagus menggumam kurang setuju karena hanya itu yang bisa dikeluarkannya saat mulutnya penuh dengan air kopi. “Kau lupa perjanjian kita semalam?”
“Tidak. Sama sekali tidak, tuan.” Jawab Tual sedikit membungkukan badan.
“Anak cerdas.” Bagus terlihat senang.
Vios hitam kemudian meluncur ke barat, lalu menikung ke utara. Ada sesuatu yang aneh dalam mobil. Bagus tidak biasanya duduk di kursi penumpang dengan santai seperti ini.
“Eh... gus...”
“Sorry?”
“Maksud saya tuan. Tuan sudah meminta tamu penting kita datang saat makan malam nanti?” Tual diam – diam menyesal sudah membuat perjanjian bodoh dengan Bagus.
“Oh, sudah saya lakukan sebelum kita berangkat. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menyisipkan kata – kata yang membuatnya akan datang.” Bagus menjawab dari balik koran. “Perhatikan saja jalanmu!”
Pakaian Bagus sama perlentenya dengan Tual. bedanya, dia menambahkan Jas tanpa memakai topi. 45 menit kemudian Tual mengurangi kecepatannya. Sedikit memutar, dan berhenti di depan peti kemas berpintu dan jendela. Tual lalu membukakan pintu untuk Bagus.
“Tuan, ada kotoran di sepatu anda.” Bagus spontan menunduk untuk membersihkan kotoran di sepatunya. Sussshhh... slep.... Bagus tahu benda apa yang menancap di punggung belakang kursi penumpang depan.
“Taruh di laci tengah. Nanti saja kita bahas.” Bisik Tual yang menggunakan pintu mobil sebagai pelindung.
“Kantor Administrasi Port Mosterm” begitu tulisan di atas pintu satu – satunya bangunan aneh warna kuning gelap ini.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya laki – laki 50 –an ketika mereka sudah duduk.
“Aku mencari seorang laki-laki, biasa bekerja disini sebagai buruh angkut.” Bagus langsung ke tujuannya.
“Siapa namanya?”
“Dios. Saya tidak tahu nama lengkapnya.”
“Tolong jelaskan anda ini siapa, darimana, dan tujuan anda mencari Dios apa?”
“Nama saya Hendrik, Hendrik Manopo. Saya adalah pemilik pertambangan batu bara. Sebenarnya saya mencari seorang teknisi untuk menggantikan pegawai saya yang pensiun 2 bulan lalu.”
“Tapi Dios disini pendidikan terkahirnya hanya SMP. Bagaimana bisa?” Laki-laki ini tampaknya suka cara berbelit daripada cara mudah.
“Saya dapat rekomendasi dari supir pribadi saya ini. Dia bilang, dia punya kerabat jauh yang pandai mengotak – atik mesin. Saya tipe pemimpin yang tidak melihat asal – usul pendidikan pegawai saya. Selama saya puas dengan kerjanya, saya beri hasil sepadan.”
Laki – laki ini mengetuk meja beberapa kali sebelum memutuskan untuk menggunakan pengeras suara memanggil Dios.
***
Kekhawatiran Tual dan Bagus mengenai kejadian yang mereka alami terulang pada Dios terbukti salah. Saat Dios masuk, Tual sangat senang. Dia langsung berdiri dan merangkulnya.
“Sebentar....” Dios melepaskan pelukan Tual dan mengambil langkah mundur. “Siapa kau? Kita pernah bertemu?”
“Aku, Tual, saudara jauhmu. Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya.”
“Hah? Tual? Saudara jauh? Darimana?”
“Paman tidak pernah menceritakannya? Masalah itu aku ceritakan saja nanti. Ada pekerjaan dengan gaji tiap bulannya lebih banyak dari gaji disini.”
“Pekerjaan apa itu?? Kau benar ingin menolongku?” Dios menanggapi dengan antusias.
Bagus menepuk pundak Tual sebelum dia mengatakan sesuatu lagi. “Sudahlah, sekarang kita pulang saja, aku ingin menyantap makan siangku lebih cepat. Nanti siang aku harus ke Australia.”
Dios akhirnya masuk mobil setelah menanda tangani beberapa dokumen. Beberapa pertanyaan diajukan Dios dengan antusias mengenai pekerjaan yang akan dia kerjakan. Untungnya, Bagus orang yang sabar.
“Hey, kawan,” Tual menyodorkan satu botol kecil air detoksin racikannya sendiri kepada Dios, “minumlah, kau belum berhenti bicara sejak kita pergi dari pelabuhan.”
Seperti namanya, Air detoksin racikan Tual berfungsi mengeluarkan racun yang mungkin sudah masuk ke dalam tubuh melalui urin. Kalau memang ada toksin, proses pengeluarannya tidak makan waktu banyak sejak air detoksin masuk ke sistem pencernaan.
Selain air itu, Tual juga membawa beberapa penawar racun dalam laci depan. Perlakuan spesial ini diberikan karena Tual mengetahui rencana penghilangan tersangka oleh Suladead.
“Tual, bisa bawa mobil lebih cepat lagi? Ada serigala tampaknya.” Tual reflek melihat spion. Dua pajero hitam dan dua motor trail sedang mengejar mereka.
Jalan aspal lurus ini jarang sekali penggunanya. Kebanyakan pengguna jalan ini pekerja pelabuhan yang saat ini sudah sibuk dengan pekerjaannya.
“Tambah lagi, al. Mereka mendekati jarak tembak.” Bagus tampak seperti burung hantu yang memutar kepalanya 180 derajat. Tual tidak menanggapi karena jarum penunjuk kecepatan sudah berhenti di angka 150 km/ jam. Meskipun mobil ini dibuat anti peluru dan bobot yang dibawa lebih ringan, tidak menutup kemungkinan akselerasinya terganggu bila diberondong peluru dari 8 laras.
Bagus melompat ke depan seperti pemain sirkus tanpa kesulitan sama sekali. Klek... Sabuk pengaman sudah terpasang dengan benar dalam dua detik. “Pakailah sabukmu! Tetap merunduk!” Kata Bagus kepada Dios sebelum dia benar – benar menjadi navigator layaknya perlombaan balap mobil. Dios, tanpa banyak bicara, menuruti saran Bagus di kursi belakang.
“Gus, berapa jarak kita ke kantor polisi terdekat?”
“Kenapa tidak ke rumah?”
“WOY!!!! Kita sudah dibidik. Kau berncana menghancurkan rumah?”
“Ehm.... 30 km dari sini.” Kata Bagus memerhatikan peta digital pada dasbor.
“Cari jalan sepi!”
“Tunggu sebentar.”
“Kita tidak punya itu sekarang! Buat aku senang, gus!”
“Nah!!! Belok kanan disini.... kiri.... dan...” Bagus terus mengutak – atik petanya. Sementara peluru berdesingan menabrak tiap sentimeter permukaan mobil.
“Simpang Y!!! Pilihanmu?!?”
“Eh.... KANAN!”
“Jalan buruk.” Tual mengarahkan mobilnya ke kiri. “Improvisasi, gus. Apa selanjutnya?”
“Belok kiri tepat di perempatan jalan.” Bagus akhirnya bisa melihat ke depan meski hanya sebentar. Tiba – tiba mobil terasa tidak seimbang. Ban belakang sebelah kanan terkena tembakan. Bagus langsung memegangi sabuk pengamannya dengan erat. Tual khawatir jarak yang dibuatnya akan terpangkas pada situasi seperti ini. Meskipun bannya akan kembali ke kondisi bagus lagi, butuh waktu 3 – 5 menit untuk sampai pada kondisi itu. Sedangkan musuhnya tidak akan mengurangi kecepatan.
“IMPROVISASI!!” Teriak batin Tual kepada dirinya sendiri. Tiba – tiba muncul sebuah ide yang cukup riskan untuk diambil. Namun, bukan Tual namanya kalau tidak gila.
“Gus, ingat salah satu bahasan pelajaran fisika SMA?” Tual bertanya sambil mengamati spion kanan.
“Bab apa?” Bagus masih tenang menanggapi pertanyaan ilmiah yang terdengar konyol disaat seperti ini. Bagus sadar itu merupakan petunjuk dari hal gila yang akan dilakukan Tual.
“Gaya. Aku sudah lupa kelas berapa aku belajar itu.”
“Kau ingin tahu rumus tentang gaya apa?”
“Abaikan rumusnya karena aku tidak membawa kalkulator. Prinsipnya saja!”
Bagus sekarang ikut mengamati spion. “Benda yang diberikan gaya mengakibatkan....”
Tual menginjak rem dan memindahkan persneling ke posisi paling rendah secara bersamaan membuat mobil mengerem mendadak. Dua motor trail menabrak bagian belakang mobil membuat penumpangnya terlempar jauh dari motornya.
“Perubahan bentuk dan posisi pada benda yang melawan arah datang gaya itu. Kau jenius, teman.” Kata Tual kembali menginjak pedal gas.
“Kau sama briliannya menyingkirkan empat penguntit sekali tepuk.” Bagus tak mau kalah memuji kawannya.
Tual melihat spion sebentar menghitung berapa laras lagi yang harus disingkirkan. Sambil bersenandung, Tual mengarahkan jarum kecepatan keangka 160 km per jamnya.
“Hey, bung, bisakah lagu yang kau nyanyikan itu membawa kita keluar dari situasi ini?” Dios hampir saja terlupakan oleh dua detektif ini.
“Gus, berapa jarak kita dari sini ke rumah?” Tual tidak peduli dengan pertanyaan Dios.
“Hey, tuan saudara jauh! Aku bertanya padamu.” Teriak Dios dalam posisi merunduk di kursi belakang.
“Kau tidak berada dalam penerbangan komersial, bung. Jadi, jangan mengharapkan makanan kecil, minuman, dan tentunya keramahan pramugari cantik.” Dios hanya mendengus kesal mendengar jawaban ketus Tual.
“Ngomong – ngomong,” kata Bagus kemudian, “jarak kita kerumah 30 km ke depan dan 28 km ke belakang.”
Tual melanjutkan pengamatannya lagi. “Gus, bagaimana kalau kita sedikit membahas pramuka?”
“Topik menarik tampaknya. Apa yang kau ingin tahu dari pemimpin pramuka saat SMA?”
“Sesuatu yang berhubungan dengan pembacaan peta.” Tual memberi Bagus beberapa menit untuk mencerna perkataannya.
“Aku sudah mengumpulkan ingatanku tentang pembacaan peta.” Bagus masih memikirkan kemungkinan ide yang muncul dari petunjuk “pembacaan peta” sambil mengamati spion.
“Istilah untuk menyatakan besarnya sudut berlawanan dari besarnya sudut antara utara dan titik sasaran?!”
“Back....” Tual kembali menginjak rem dan memindahkan persneling ke posisi paling rendah secara bersamaan kedua kalinya. “...Azimuth.”
Sekarang posisi mereka berubah. Vios hitam berganti menjadi penguntit dua Pajero Sport. Tual berusaha menjaga jarak yang dibuatnya tidak berubah sedikitpun sambil melanjutkan perbincangan sebelumnya.
“Dan saat kau melakukan penjelajahan hutan, pergeseran satu derajat dari jalur merupakan kesalahan fa..tal” Tual memutar kemudi sedikit ke kiri lalu menarik tuas rem. Mobil berputar 180 derajat dan menyenggol roda kanan bagian belakang Pajero di kiri. Saat sedan itu melaju kembali, dua pajero tadi bergulung – gulung saling bertubrukan.
***
Tual dan Bagus tidak khawatir dengan kemungkinan Dios kabur. Keyakinan mereka ini tidak berdasar pada tingginya tembok belakang rumah atau aspek fisik lain karena rumah mereka tidak memiliki itu semua. Keyakinan mereka muncul setelah melihat wajah ketakutan dan doktrin mengenai akibat yang paling mungkin terjadi apabila kaki Dios berada di luar pintu rumah ini.
Dios masuk kembali ke kamar kerja –yang menurutnya ruangan paling nyaman di rumah ini. Ia memilih untuk duduk menghindari jendela, lagi–lagi menurutnya, daerah yang mudah dijangkau peluru penembak jitu. Sikapnya berubah menjadi pendiam. Bahkan saat ditanya dia mau makan apa, harus menunggu setengah jam untuk dua kali anggukan pelan. Benar –benar memberi trauma psikis. Pikir Bagus.
“Di, kau kenal dengan Yakomo?” Tanya Tual ketika mereka berdua saja di kamar kerja.
“Ehmm... kalau tidak salah, dia seorang bos yang kaya. Bos pabrik tekstil yang menggunakan bahan impor dari jepang. Aku dengar, dia mati overdosis di ruangannya.”
“Al, tanggal berapa sekarang?” Tanya Bagus yang kembali dengan kantong plastik penuh dengan roti dan minuman dingin.
“Aku tidak pernah tahu tanggal berapa sekarang. Mungkin Dios tahu.”
“Bukannya ini tanggal 3 Maret?”
“Ah, ternyata ada orang yang menggunakan kalender secara normal di sini.” Nada suara Bagus terdengar senang. Kalau analisa kalian baik, penggunaan nada senang hanyalah teknik menarik hati orang lain, cara bermain peran ini digunakan karena pelaku mendapat tekanan mental hebat.
Prinsip kerjanya sederhana. Tual dan Bagus memanfaatkan sifat dasar manusia memilih sesuatu yang baik. Pembandingan merupakan cara termudah untuk penilaian baik / buruknya sesuatu.
“Terimakasih. Saya terbiasa baca koran tiap pagi, jadi saya tahu tanggal berapa ini.” Kata Dios merendah.
“Kalau sekarang 3 maret, berarti empat hari yang lalu adalah tanggal 27 Februari. Kemana kau malam itu?” Tanya Bagus setelah dia duduk di sebelah Dios. “Sekitar jam sebelas malam kami mencarimu di rumah, tapi tidak bertemu siapapun disana.”
“Pantas saja kalian tidak bertemu siapapun. Dalam rumah itu hanya aku sendiri. Malam itu aku main ke pabrik tempat Yokomo ditemukan tewas tanggal 28 Februari. Aku diminta temanku menemaninya jaga malam karena teman jaganya izin menemani istrinya melahirkan.” Terang Dios dengan tenang. “Aku dan temanku tidak ada yang tidur malam itu. Tidak ada orang yang masuk ataupun keluar. Aku baru tahu kalau Yokomo sering menginap sebulan ini. Rumornya dia sedang menghadapi masalah berat dengan istrinya. Entahlah, masalah tiap orang pasti memiliki perbedaan.”
“Benar juga kata anak muda ini, al. Kau harus banyak belajar darinya.” Kata Bagus melambungkan hati Dios.
“Seberapa sering kau ikut jaga malam di sana?” Tual mengajukan pertanyaan terakhirnya.
“Hanya 2 kali. Pertama kali kami jaga malam bersama ada tiga orang: aku, temanku, dan temannya yang izin menemani istrinya melahirkan, kedua kalinya aku hanya berdua saja. Tapi, malam itu aku diberi tahu kalau temanku jaga sendirian, aku merasa kasihan.”
“Terima kasih atas kerja samanya.” Kata Tual merapikan kertas – kertas di mejanya, “Aku yakin kau belum mau pulang sekarang, kan? Jadi duduklah dengan tenang.”
Tak lama pintu depan dibuka. Letnan Hasbi datang tampaknya. Tak ada sambutan hangat dari pemilik rumah tentunya. Setelah berbincang sebentar, Tual segera menutup tirai jendela dan Bagus menutup pintu kamar kemudian menyalakan lampu. Dios diminta duduk di kursi sebelah letnan Hasbi. Dia sedikit bingung dengan keadaan ini meskipun dia menurut saja. “Dios, kenalkan teman kita, letnan Hasbi. Dia kanit reskrim di Polresta.” Terang tual yang duduk berhadapan dengan keduanya. Setelah berjabat tangan, Dios dan letnan Hasbi menghadap Tual lagi. “Berdasar hasil peneyelidikan dan penarikan kesimpulan oleh saya dan rekan saya, Bagus, kami menetapkan Dios sebagai tersangka dari kasus pembunuhan Tuan Yokomo pada tanggal....” Kata – kata Tual langsung dibantah Dios.
“Jangan asal menuduh, saya bisa melaporkan kalian berdua. Lagipula untuk apa membunuh orang yang over dosis?”
Tual tidak peduli dan tetap melanjutkan. “Pada tanggal 28 Februari 2012. Berdasarkan bukti di TKP, kami berdua menemukan kejanggalan dari mayat Tuan Yokomo yang diduga meninggal karena over dosis.”
“Berdasarkan hasil Visum et Repertum yang saya lakukan,” Bagus melanjutkan, “mayat beridentitas Yokomo, pekerjaan swasta, ditemukan tanggal 28 Februari 2012 jam 07.30 WIB dalam ruangan direktur PT. Textilo Indonesia oleh saudari Rini Wulandari. Perkiraan waktu meninggal antara pukul 04.00 – 04.35 WIB. Perkiraan penyebab kematian kehabisan nafas karena kesengajaan orang lain. Ciri fisik korban: pakaian masih lengkap, terdapat bekas tusukan jarum dari atas kebawah pada lipatan siku kiri, terdapat bekas tusukan jarum pada lipatan pantat kiri, warna kulit kebiruan, terdapat warna merah seperti bekas penekenan disekitar hidung korban, keluar cairan kental dari mulut, dan mata sayu.”
“Anehnya,” Tual jalan mondar – mandir seperti guru sedang menerangkan, “mayat ditemukan dalam keadaan belum masuk tahapan rigor mortis, warna kulitnya berubah menjadi kebiruan. Memang, sebagian korban meninggal karena overdosis zat alphamethylfentanyl menyebabkan efek seperti itu. Bedanya semakin mendekati lubang injeksi, warna biru yang tampak akan semakin gelap. Ciri ini tidak ada pada mayat tuan Yokomo di TKP.”
“Bagaimana dengan ciri keluarnya cairan dari mulut dan mata sayu?” Letnan Hasbi berusaha bertahan dengan argumen awalnya.
“Cairan bening berbau alkohol yang keluar dari mulut korban hanya upaya pelaku mengaburkan penyebab asli kematian korban. Sama dengan bekas tusukan jarum pada lipatan siku kiri korban yang arahnya dari atas, bukan dari bawah seperti pengguna lainnya yang menyuntik sendiri.” Terang Bagus bergantian dengan Tual. “Hal ini dilakukan setelah pelaku menyeret korban dari tempat awal korban tewas. Setelah menyuntikan zat yang biasa disebut putaw, pelaku menurunkan celana korban baru menyuntikan alkohol melalui lipatan pantat kiri. Terlebih, seorang kidal tidak mungkin menyuntikan di lengan kiri.”
“Bagaimana kalian tahu korban itu kidal?” Letnan Hasbi tercengang dengan analisa dua detektif yang baru terkenal namanya ini.
“Informasi dari salah satu pegawai. Kami menginterogasi total 15 saksi.” Tual berjalan mendekati Dios. “Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Atas dasar apa kau menuduhku sebagai pelaku? Sidik jari? Atau bekas nafas?” Dios mencoba mengelak.
“Kau sedang mengigau?” Ledek Tual sambil tertawa sinis. “Aku akan menyadarkanmu, teman. Saat ini kau berada di era digital. Beberapa panca indera pun punya saudara digital.”
“Jelaskan, al, aku belum paham.” Letnan Hasbi seperti murid yang menerima pelajaran.
“Kesaksian Dios tadi dibenarkan oleh temannya sebagai penjaga malam. Namun, bukti kuat yang memberatkan Dios adalah rekaman kamera keamanan.” Terang Bagus menggantikan Tual yang menyalakan rokoknya.
“Bagaimana bis...”
“Bisa saja. Kau melewatkan 1 mata yang ada di jalurmu. Awalnya, kami putus asa karena kamera keamanan di jalurmu sudah dikelabui dengan memasang rekaman pengganti. Namun, ada satu yang meerekammu sedang berjalan ke dalam pabrik namun tidak ada yang merekam aktivitasmu di dalam” Kata Tual lagi, “Ada yang ingin kau tambahkan?”
“Tidak. Semuanya sudah kalian beberkan. Aku tidak bisa mengelak lagi.”
Dios pasrah saat tangannya diborgol. Dios meminta izin menyampaikan beberapa pesan sebelum dibawa ke sel. Izin itu diberikan oleh letnan Hasbi.
“Hey, detektif, aku tahu siapa yang memberi tahumu dimana dapat menemukanku. Maukah kau memberitahunya kalau aku sangat menyesal melakukan ini karena tergiur uang?”
“Akan aku sampaikan. Tapi, kemungkinan aku menyampaikannya dekat nisan agar didengarnya.” Tual bersikap seperti sedang berbicara pada teman yang lama dia kenal.
“Kemungkinan terulang kejadian yang menimpamu tadi siang.”
“Seberapa besar kemungkinannya?”
“Begini saja, kalau dalam masa tahanan dan hukumanmu dia menjengukmu, berarti dia berhasil selamat.” Kata Bagus mencoba menenangkan. “Yakinlah, dia sangat peduli denganmu meskipun kau saudara tirinya.”
***
Pagi ini terasa penuh kecerian dengan gesekan biola Tual. Bagus masuk dengan membawa beberapa amplop. “Al, kau ingin mendengar isi surat? Seperti biasa kita menerima beberapa amplop putih disini dan...”
“Apa itu gus? Siapa pengirimnya?” Tual seketika berenti bermain biola. Matanya menangkap benda coklat besar yang dibawa Bagus.
“Tak ada nama dan alamat pengirim. Kita lihat apa isinya....” Bagus kaget melihat buku tabungan dengan namanya dan nama Tual dibuku yang lain. Ada selembar kertas yang ikut didalam amplop bersama 2 buku tabungan.
“Baiklah, gus, kelihatannya kita tidak bisa mengucapkan selamat jalan kepada nyonya Ratna Kusuma.” Baru saja Tual mengangkat biolanya lagi, pintu rumah dibuka dengan cepat. Seorang polisi berseragam lengkap masuk dengan nafas tersengal.
“Pak Tual dan pak Bagus diminta datang sekarang ke kantor!” kata polisi itu mencoba mengatur nafasnya.
“Tenanglah, perwira. Siapa yang menyuruhmu?” Bagus menanggapi dengan wajah datarnya.
“Letnan Hasbi yang memerintahkan.”
Dua detektif ini langsung beranjak dari kursi lalu menuju mobil yang telah menunggu mereka.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
letnan_Pholenk
Newbie
Newbie


Age : 21
Contribute : 0
Jumlah posting : 24
Lokasi : yogyakarta

PostSubyek: Re: Yokomo : Kematian yang Disamarkan   Tue 18 Mar 2014 - 9:42

kakak-kakak minya comment ya  Smile 
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
D'Fahrie
Advanced
Advanced


Age : 19
Contribute : 28
Jumlah posting : 583
Lokasi : secret

PostSubyek: Re: Yokomo : Kematian yang Disamarkan   Tue 8 Apr 2014 - 20:20

keren ceritanya kagum
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://de-fahrie.blogspot.com
letnan_Pholenk
Newbie
Newbie


Age : 21
Contribute : 0
Jumlah posting : 24
Lokasi : yogyakarta

PostSubyek: Re: Yokomo : Kematian yang Disamarkan   Tue 8 Apr 2014 - 20:28

ada saran atau masukan apa kak?
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
D'Fahrie
Advanced
Advanced


Age : 19
Contribute : 28
Jumlah posting : 583
Lokasi : secret

PostSubyek: Re: Yokomo : Kematian yang Disamarkan   Tue 8 Apr 2014 - 20:49

letnan_Pholenk wrote:
ada saran atau masukan apa kak?

sebenarnya saya cuma pembaca biasa jadi susah ngasih saran ato masukan.

tapi menurut saya gg ada yang harus dikritik, karena ceritanya udah agak2 lupa susah juga klo mau ngasih saran klo ceritanya udah lupa soalnya keluapaan sma cerita yang saya baca yang lainnya

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://de-fahrie.blogspot.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: Yokomo : Kematian yang Disamarkan   Today at 2:20

Kembali Ke Atas Go down
 

Yokomo : Kematian yang Disamarkan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Net Detective Indonesia :: Warung Net Detective Indonesia :: Hobbies :: Arts Room-