IndeksP O R T A LCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Kartini "Diciptakan" Belanda?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Yui Loverz
Plain Clothe Man
Plain Clothe Man


Age : 22
Contribute : 24
Jumlah posting : 2355
Lokasi : Tokyo, Japan

PostSubyek: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Sun 22 Aug 2010 - 5:24

Mumpung masih dalam suasana kemerdekaan, saya beberapa waktu lalu dapat tugas sejarah untuk membahas isu-isu yang ada di Sejarah Negara kita dan kebetulan saya dan kelomok dapat bab tentang kolonialisme, nah tema yang kami angkat adalah ini, oleh karena itu saya jadi tertarik untuk mempostingnya di sini juga, bagaimana menurut kalian semua tentang artikel di bawah ini.?? Silahkan simpulkan sendiri..

Kartini “Diciptakan” Belanda?
Thursday, 22 April 2010 19:50 Fandy Hutari (Kontributor)



IndonesiaSeni.com - Sosok R.A. Kartini dan Hari Kartini selalu menarik untuk didiskusikan di bulan April ini. Bagaimana tidak, banyak sejarawan yang “menggugat” sosok Kartini dan Hari Kartini. Contohnya saja, pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar dalam tulisannya “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” di buku Satu Abad Kartini mengemukakan bahwa kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak menciptakan sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya. Intinya, ia menggugat pengkultusan Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Lalu, pada 9 April 2009, sejarawan Persis, Tiar Anwar Bachtiar juga mengungkapkan hal senada. Dalam artikelnya “Mengapa Harus Kartini?” di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009, ia menulis bahwa masih banyak tokoh perempuan lain yang lebih mengesankan dalam hal pemikiran dibandingkan Kartini. Ia mencontohkan di antaranya Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang.

Pemikiran

Kartini lahir pada 21 April 1879, dan berasal dari kalangan bangsawan Jawa. Ia merupakan putri istri pertama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Kartini kecil bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sinilah ia belajar bahasa Belanda. Namun, setelah usia 12 tahun ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Tradisi pingit memang dikenal jaman itu dalam adat bangsawan Jawa. Sebelum seorang gadis menikah atau menjelang akil baligh, mereka harus menjalani pingitan untuk menunggu dinikahkan. Di tengah pingitan, Kartini banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku, khususnya buku-buku yang mengangkat tema soal kemajuan perempuan, seperti karya-karya Multatuli dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa.

Dari sini, kesadarannya terbuka. Ia menyadari. betapa tertinggalnya pendidikan kaum perempuan di negerinya. Ia juga berencana mengikuti Sekolah Guru di Belanda. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya. Tapi, ia mesti menguburnya dalam-dalam keinginannya itu, karena tidak mendapat ijin dari ayahnya. Ada yang unik setelah Kartini gagal pergi ke Belanda. Beasiswa yang didapatnya ini lalu ia alihkan kepada Agus Salim, tokoh pergerakan nasional asal Sumatra Barat. Kartini tahu, Agus Salim yang usianya lebih muda 5 tahun di bawah dia, merupakan pemuda yang cerdas. Pada 1903, Agus Salim lulus dari HBS (Hogere Burgerschool) dalam usia 19 tahun sebagai lulusan terbaik di tiga kota, Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Dengan prestasi ini, Agus Salim berharap pemerintah mengabulkan permintaan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Tapi permintaan itu ditolak. Saat Pemerintah Belanda menyetujui maksud Kartini, Agus Salim justru menolaknya. Ia beranggapan bahwa pemberian beasiswa tersebut atas dasar “rasa kasihan”, bukan kecerdasannya. Agus Salim juga tersinggung dengan pemerintah kolonial yang diskriminatif.

Pada usia 24 tahun, 12 November 1903, Kartini dinikahi oleh bupati Rembang, K.R.M. Adipati Arip Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah memiliki tiga orang istri. Dari pernikahan ini, Kartini memiliki seorang anak, RM Soesalit. Oleh suaminya, Kartini diijinkan untuk mendirikan sebuah sekolah perempuan, yang memang menjadi cita-citanya. Lalu, berdirilah sekolahnya di bagian timur gerbang komplek Kabupaten Rembang. Kartini meninggal pada 17 September 1904 di usia yang masih sangat muda, 25 tahun.

Dalam catatan sejarah, kita mengenal Kartini sebagai seorang emansipatoris perempuan. Pejuang kaum hawa untuk maju seperti kaum adam, terutama dalam hal pendidikan. Pemikiran Kartini sendiri tercurah dalam surat-suratnya kepada sahabat-sahabat penanya yang ada di Eropa dan di Hindia Belanda. Ia aktif berkorespondensi dalam masa pingitannya. Salah seorang sahabat penanya di Belanda bernama Estelle Zeehandelaar. Ia merupakan seorang aktivis feminis di Belanda. Kartini mengenal Estelle dari program sahabat pena di majalah De Hollandse Lelie. Sedangkan sahabat penanya di Hindia Belanda adalah Rosa Manuela Abendanon-Mandri. Ia merupakan istri dari J.H. Abendanon, seorang pejabat Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda untuk menjalankan kebijakan politik etis. J.H. Abendanon dalam perjalanan karirnya diangkat menjadi menjadi Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda. Dengan Rosa Abendanon inilah Kartini aktif mencurahkan isi hatinya lewat surat. Keluarga Abendanon sendiri tinggal di Batavia.

Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya bicara isu apa yang sekarang disebut gender saja. Ia juga bicara soal kondisi sosial, spiritualitas pribadinya, dan gugatan terhadap budaya Jawa. Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju.

Politik Pencitraan

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar nasional untuk memaknai perjuangannya dalam melepaskan belenggu kaum perempuan, seperti pendidikan dan persamaan hak, menimbulkan pertanyaan tentang mengapa hanya Kartini yang dipilih sebagai tokoh sentral. Hal ini bisa sedikit terungkap jika kita lihat asal muasalnya. Nama Kartini sendiri muncul setelah J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya, dan dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Buku yang mengalami enam kali cetak ini diterbitkan pada 1911 atau tujuh tahun setelah Kartini wafat. Sebelum J.H. Abendanon menerbitkan buku ini, namanya hampir tidak dikenal oleh orang-orang Indonesia di luar lingkungan Kartini sendiri.

Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini diterjemahkan oleh Agnes L Symmers, dengan judul Letters of a Javanese Princess. Pada 1922, edisi bahasa Melayunya terbit dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, tokoh Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemahnya. Selain itu, surat-surat Kartini juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Arab. Tepat dua tahun setelah penerbitan Door Duisternis tot Licht, dibangun sejumlah sekolah di Jawa Tengah atas inisiatif pengumpulan dana oleh sahabatnya, Hilda de Booy-Boissevain. Setahun kemudian, 27 Juni 1913, berdiri Komite Kartini Fonds yang dipimpin tokoh pemrakarsa politik etis, C.Th. van Deventer. Lalu yayasan ini berhasil mendirikan Sekolah Kartini di berbagai kota, seperti Surabaya, Yogyakarta Malang Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Besarnya perhatian terhadap Kartini, disebabkan karena orang-orang Belanda ini kagum dengan pemikiran-pemikiran Kartini, yang mereka sebut, melampaui jamannya.

Dalam sebuah tulisannya, Prof. Harsja W. Bachtiar berpendapat bahwa Kartini sengaja dimajukan oleh orang-orang Belanda sebagai tokoh kunci pejuang emansipasi perempuan. Bachtiar menyebut tokoh sosialisme, H.H. van Kol, dan penganjur politik etis, C.Th. van Deventer, adalah orang-orang yang berada di belakang layar. Satu lagi tokoh kolonial yang turut berperan adalah Snouck Hurgronje. Banyak disebut, pakar Islam dan penasihat pemerintah Hindia Belanda ini mendorong J.H. Abendanon untuk “memperhatikan” Kartini.

Lalu di manakah posisi tokoh perempuan lainnya saat itu? Ke mana nama-nama seperti Tjoet Tjak Dhien, Dewi Sartika, Christina Marta Tiahahu, Rohana Kudus, RAA Lasminigrat, Malahayati, dan para pejuang perempuan lainnya yang hidup semasa Kartini? Bukankah praktik perjuangan mereka lebih nyata dibandingkan Kartini? Tjoet Tjak Dhien (1848-1908) hingga akhir hayatnya tetap melawan Belanda. Dewi Sartika (1884-1947) berhasil mendirikan sekolah di Bandung dan luar Bandung pada 1910, meski awalnya permohonannya kepada pemerintah ditolak lantaran ayahnya tidak loyal kepada pemerintah. Rohana Kudus (1884-1972) juga mendirikan beberapa sekolah di kampung halamannya, Padang. Ia juga merupakan wartawati pertama di Indonesia. Selain itu, Rohana adalah penentang keras poligami. “Poligami itu harus dilarang. Poligami itu merugikan perempuan!” tulis Rohana di Soenting Melajoe (1912). RAA Lasminingrat (1843-1948) asal Garut merupakan pengarang yang luar biasa. Bukunya pernah dicetak sebanyak 6.015 eksemplar pada 1875. Ia konsentrasi pada kemajuan pendidikan perempuan Sunda. Ia berhasil mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut pada 1907. Saat Dewi Sartika kesulitan mendapat ijin mendirikan sekolah, Lasminingrat turut mendukung dengan cara membujuk bupati Bandung. Yang miris, RAA Lasminingrat dan Rohana Kudus hingga kini belum diangkat sebagai Pahlawan Nasional, dan perjuangannya nyaris luput dari perhatian publik.

Pertanyaannya kemudian, apakah tokoh-tokoh ini sengaja ditenggelamkan? Ada dugaan kalau Snouck sengaja mendorong nama Kartini sebagai semacam “tameng” bagi nama-nama tokoh perempuan lain yang lebih progresif pada masa itu. Ia membentuk penokohan Kartini yang seorang muslim dan Jawa sebagai ikon perjuangan perempuan di tanah Hindia Belanda. Ia berusaha menutupi perjuangan perempuan lain yang jelas-jelas antikolonialisme dan menentang pemerintah penjajah. Dengan kata lain, Belanda tak ingin generasi perempuan selanjutnya kenal dan mengagumi tokoh-tokoh perempuan yang lebih intens menentang kolonialisme. Apakah pemerintah kolonial sengaja membatasi pemberitaan tentang perjuangan-perjuangan mereka dulu? Entahlah, tapi jika kita berkaca pada minimnya catatan sejarah tentang mereka, kita patut menduga demikian. Mungkin inilah yang dinamakan: cerita orang-orang “kalah” karena sudah memberontak, kalau tidak mau “kalah”, jangan memberontak.

Dari beberapa informasi, saya menyimpulkan empat kontroversi mengenai sosok Kartini yang menjadikannya “lemah”. Pertama, ada dugaan bahwa pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya terlebih dahulu direkayasa J.H. Abendanon. Beberapa kalangan meragukan, karena hingga saat ini naskah asli surat-surat Kartini tidak diketahui keberadaannya. Kita hanya disuguhkan naskah surat yang sudah dalam bentuk buku. Tidak ada koreksi lagi terhadap naskah aslinya. Beberapa yang lainnya bertanya, bagaimana mungkin seorang gadis usia belasan dapat menulis kalimat seindah surat-surat itu? Mungkinkah J.H. Abendanon memanfaatkan surat-surat Kartini demi kepentingan politik etis yang sedang gencar dikampanyekan pada masa itu? Mengingat ia adalah salah seorang pejabat yang ditugaskan Belanda untuk menjalankan politik etis dan kedudukannya sebagai Direktur Kebudayaan, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Kedua, Kartini tidak secara teguh berdiri pada pendiriannya. Ia dianggap kurang konsisten memperjuangkan pemikirannya pada nasib perempuan Jawa. Di surat-suratnya, ia mengkritik, mengeluhkan, dan menggugat tradisi Jawa dan Islam yang banyak mengekang perempuan, seperti dilarang sekolah tinggi, dipingit, dan dipoligami. Namun, kenyataannya berbanding terbalik dengan pemikirannya. Nyatanya ia menerima dinikahkan dengan seorang bupati Rembang yang sudah memiliki tiga orang istri. Perubahan sikapnya terhadap pernikahan juga terjadi setelah pernikahan ini. Ia terkesan menjadi “lembek”. Kartini menganggap, pernikahan akan membawa keuntungan dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi. Ketiga, tidak ada bukti yang menegaskan perlawanan Kartini terhadap penjajah Belanda. Selama ini, umum memahami kalau yang disebut pahlawan adalah mereka yang menentang kekuasaan kolonial. Tapi pada pemikirannya, tak ada upaya tentang perlawanan itu. Kartini bahkan cendrung toleran terhadap Belanda. Keempat, Kartini sepertinya cuma berbicara sebatas ruang lingkup Jawa saja, tidak pernah menyinggung suku bangsa lain di Indonesia.

Pemerintah Indonesia sendiri akhirnya menetapkan hari lahir Kartini, 21 April, sebagai hari besar nasional dengan nama Hari Kartini melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964. Pada tanggal tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Saya curiga, jangan-jangan penetapan Hari Kartini ini lahir dari ide pribadi Soekarno dalam membangkitkan spirit kaum perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan yang sedang gencar-gencarnya di tahun 1960-an. Kemungkinan besar Soekarno memilih Kartini karena pemikiran-pemikirannya lebih terdokumentasi dibandingkan dengan tokoh perempuan lain. Dan, ini bersinggungan lagi pada usaha orang-orang Belanda memunculkan Kartini lewat buku kumpulan surat-suratnya, Door Duisternis tot Licht.

Penetapan Hari Kartini cenderung mengkultuskan Kartini sebagai seorang pejuang perempuan. Padahal, masih banyak sosok perempuan lain yang lebih dari Kartini. Tulisan ini bukan ditujukan untuk menggugat sosok Kartini sebagai seorang Pahlawan Nasional. Tapi lebih kepada wacana kritis untuk mengangkat sejarah yang sedikit “terselubung”. Terlepas dari semua itu, kita mesti mengakui jasa-jasa Kartini sebagai seorang pejuang perempuan. Namun, jika kita berkaca pada perjalanan sejarahnya, kita juga perlu untuk mempertanyakan satu hal: jangan-jangan Kartini memang bagian dari proyek kolonial? Entahlah.


FANDY HUTARI,
Penulis Sejarah.

Sumber: www.Indonesiaseni.com
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.fu-fam.blogspot.com/
Yui Loverz
Plain Clothe Man
Plain Clothe Man


Age : 22
Contribute : 24
Jumlah posting : 2355
Lokasi : Tokyo, Japan

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Sat 4 Sep 2010 - 3:51

oi, UP.. cek tkp gan!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.fu-fam.blogspot.com/
blue_berry
Advanced
Advanced


Contribute : 45
Jumlah posting : 1840

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Fri 26 Aug 2011 - 0:28

Ooo ... masa sih??

tapi aku juga penasaran sih sama Kartini....
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ampun_dj
Advanced
Advanced


Age : 19
Contribute : 12
Jumlah posting : 722
Lokasi : Jakarta

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Tue 27 Sep 2011 - 14:51

bisa ceritaain intinya aja nggak?
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Yui Loverz
Plain Clothe Man
Plain Clothe Man


Age : 22
Contribute : 24
Jumlah posting : 2355
Lokasi : Tokyo, Japan

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Tue 27 Sep 2011 - 20:32

blue_berry wrote:
Ooo ... masa sih??

tapi aku juga penasaran sih sama Kartini....

Saya juga belum terlalu yakin sih, habis waktu ngerjain tugas belum terlalu diperdalam lagi peaceee....

ampun_dj wrote:
bisa ceritaain intinya aja nggak?

Ini postingan udah lama banget, jadi saya sendiri hampir lupa sama isinya Maaf

Jadi simpulkan saja sendiri dulu peaceee....
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.fu-fam.blogspot.com/
Kyuuki
Case Solver
Case Solver


Contribute : 39
Jumlah posting : 729

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Wed 28 Sep 2011 - 13:17

Siapa sih Kartini? Kenapa dia bisa ditetapkan sebagai pahlawan? Apa perannya bagi bangsa ini? Apakah dia bisa disetarakan dengan Dewi Sartika yang membangun sekolah-sekolah khusus perempuan? Apakah dia juga bisa disetarakan dengan Cut Nyak Din yang berjuang mati-matian melawan penjajah?
Hingga saat ini, saya masih bingung dan sering bertanya-tanya, kenapa seseorang bisa dijadikan pahlawan hanya karena surat menyurat?
Hmm
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Yui Loverz
Plain Clothe Man
Plain Clothe Man


Age : 22
Contribute : 24
Jumlah posting : 2355
Lokasi : Tokyo, Japan

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Wed 28 Sep 2011 - 20:05

Kyuuki wrote:
Siapa sih Kartini? Kenapa dia bisa ditetapkan sebagai pahlawan? Apa perannya bagi bangsa ini? Apakah dia bisa disetarakan dengan Dewi Sartika yang membangun sekolah-sekolah khusus perempuan? Apakah dia juga bisa disetarakan dengan Cut Nyak Din yang berjuang mati-matian melawan penjajah?
Hingga saat ini, saya masih bingung dan sering bertanya-tanya, kenapa seseorang bisa dijadikan pahlawan hanya karena surat menyurat?
Hmm

Itu juga yang saya bingungkan good

Masih belum ada kejelasan sebenarnya mengenai siapa sebenarnya sosok ini, yang kita tahu cuma dari teks buku-buku pelajaran sejarah aja cape banyak tugas
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.fu-fam.blogspot.com/
Vicaksana
Advanced
Advanced


Contribute : 49
Jumlah posting : 2366
Lokasi : Unknown

PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Thu 29 Sep 2011 - 17:13

Nah iya itu om kyuu.. tapi KATA SEJARAH sih kartini itu putri sejati, putri indonesia, harum namanya, pendekar bangsa, pendekar kaum hawa untuk merdeka.. HAMMER HEAD

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: Kartini "Diciptakan" Belanda?   Today at 7:22

Kembali Ke Atas Go down
 

Kartini "Diciptakan" Belanda?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Net Detective Indonesia :: Warung Net Detective Indonesia :: Re-Post and Re-Discuss!-